Ketika si Tukang Besi sebut saja namanya anto sedang duduk di
rumahnya melepas lelah setelah seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu
rumahnya diketuk orang. Si Anto keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk
pada sesosok waNita cantik yang tak lain adalah tetangganya bernama nita
“tetanggaku, aku menderita kelaparan. Jika bukan karena tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa (hifdz al-Nafs), aku tidak akan datang ke rumahmu. Maukah engkau memberikan makanan padaku karena Allah?” Tutur Nita itu.
“tetanggaku, aku menderita kelaparan. Jika bukan karena tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa (hifdz al-Nafs), aku tidak akan datang ke rumahmu. Maukah engkau memberikan makanan padaku karena Allah?” Tutur Nita itu.
Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik (kemarau). Sawah dan ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan menjadi langka, maka tak pelak kelaparan melanda sebagian besar penduduk desa itu. Hanya sebagian kecil yang masih bisa bertahan.
“Tidakkah engkau tahu bahwa aku
mencintaim? Akan kuberi engkau makanan, tetapi engkau harus melayaniku
semalam,” kata Anto itu.
Si Anto memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berhasil meluluhkan hati Nita itu.
“Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah,” ujar Nita itu lagi sambil berlalu menuju rumahnya.
Si Anto memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berhasil meluluhkan hati Nita itu.
“Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah,” ujar Nita itu lagi sambil berlalu menuju rumahnya.
Setelah dua hari berlalu, Nita itu kembali mendatangi rumah si Anto dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si Anto. Ia akan memberi makanan asalkan Nita itu mau menyerahkan dirinya. Mendengar jawaban yang sama, Nita itupun kembali ke rumahnya.
Dua hari kemudian, Nita itu datang lagi ke rumah Anto itu dalam keadaan payah. Suaranya parau, matanya sayu, dan punggungnya membungkuk karena menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa. Begitu pula jawaban si Anto, sama dengan yang sudah-sudah. Nita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk kali ketiga.
Ketika itulah, Allah memberikan hidayah-Nya kepada si Anto. “Sungguh celaka aku ini, seorang Nita mulia datang kepadaku, dan aku terus berlaku dzalim kepadanya,” tutur Anto dalam hatinya. “Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan mengganggu Nita itu lagi selamanya.”
Si Anto itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah Nita itu. Diketuknya pintu rumah Nita itu. Tak lama berselang, kerekek…terlihat pintu terbuka dan muncullah sesosok Nita yang nampak kuyu. Melihat si Anto berdiri di depan pintu rumahnya, Nita itu bertanya, “Apa keperluanmu datang ke rumahku?”
“Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan khawatir, aku memberinya karena Allah,” jawab si Anto itu.
“Ya Allah, jika benar apa yang dikatakannya, maka haramkanlah ia dari api di dunia dan akhirat,” tutur Nita itu seraya menengadahkan kedua tanganya ke langit.
Si Anto itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa buat dirinya. Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya, namun kaki si Anto itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui Nita itu lagi.
“Nita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu,” ujar si Anto.
Seketika itu, Nita itu sujud syukur kepada Allah.
“Ya Allah engkau telah mewujudkan doaku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga.” Terdengar suara lirih dari mulut Nita itu dalam sujudnya. Allah kembali mendengar doanya. Nita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan sujud.
Demikianlah kisah seorang Nita yang menjaga kehormatannya meskipun harus menahan rasa lapar yang tiada tara.
Setiap muslimah mestinya dapat
mengambil i’tibar (pelajaran berharga) dari berbagai kisah Nita shalihah yang
telah diuraikan di muka. Merekalah yang mestinya dijadikan suri tauladan dalam
kehidupan keseharian, bukan para artis yang menawarkan gaya hidup hedonisme dan
materialisme



Tidak ada komentar:
Posting Komentar